Salah satu cara yang dilakukan Pemerintah buat memperoleh pendanaan adalah dengan menerbitkan surat utang negara. Kalau di Indonesia kita mengenalnya dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN), di Amerika Serikat dikenal sebagai U.S. Treasury bond.
Dengan memiliki surat utang negara, itu tandanya kita berada di posisi sebagai pemberi pinjaman atau kreditur. Sementara itu, Pemerintah sebagai penerima pinjaman atau debitur wajib mengembalikan pinjaman yang kamu berikan berikut bunganya.
Di Indonesia, keberadaan surat utang dimanfaatkan buat membiayai defisit APBN, menutup kekurangan kas jangka pendek, dan mengelola portofolio utang negara. Manfaat yang kurang lebih sama juga menjadi alasan mengapa beberapa negara menerbitkan SUN.
Begitu juga dengan Amerika Serikat yang kabarnya menerbitkan surat utang yang nilainya mencapai US$ 22 triliun atau setara Rp 309.876 triliun. Banyak banget ya?
Penasaran siapa aja pemilik surat utang Amerika Serikat? Cari tahu yuk dalam ulasan berikut ini.
Baca juga: Dibanding Masa-Masa Sebelumnya, Utang Negara Saat Ini Emang Tinggi, Berbahayakah?
Nilainya hingga US$ 22 triliun, siapa aja pemegang surat utang negara Amerika Serikat?

Dari data yang disajikan Visual Capitalist, kepemilikan surat utang Amerika Serikat berasal dari kreditur dalam negeri ataupun luar negeri. Buat lebih jelasnya, kamu bisa melihat komposisi kepemilikannya dalam tabel berikut ini.
| Kreditur | Nilai surat utang negara |
| Departemen Pemerintahan dan Fed | US$ 8,1 triliun |
| Asing dan internasional | US$ 6,3 triliun |
| Reksa dana | US$ 2,06 triliun |
| Dana pensiun | US$ 0,92 triliun |
| Bank | US$ 0,77 triliun |
| Pemerintah negara bagian | US$ 0,69 triliun |
| Investor lainnya | US$ 3,18 triliun |
Dari tabel di atas, ternyata departemen pemerintahan dan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed menjadi pemegang terbesar surat utang Amerika Serikat. Lalu ada kreditur domestik yang secara keseluruhan memegang surat utang senilai US$ 7,6 triliun.
Menariknya nih, senilai US$ 6,3 triliun dari surat utang negara Amerika Serikat ternyata dimiliki negara-negara Asing. Nilai ini tentunya terbilang besar. Banyak informasi menyebut China sebagai pemegang terbesar surat utang yang diterbitkan Amerika Serikat.
Selain China, ada beberapa negara lain yang memiliki surat utang AS dalam jumlah besar. Negara-negara mana aja kah itu?
Baca juga: Tiga Orang Terkaya Ini Bisa Lunasi Utang Indonesia, Lho! Siapa Aja?
Negara-negara yang memiliki surat utang negara Amerika Serikat

Dilihat dari komposisinya, China dan Jepang menjadi negara yang memegang surat utang AS dalam jumlah banyak. Kedua negara ini memiliki surat utang AS dengan nilai lebih dari US$ 1 triliun. Lebih lengkapnya kamu bisa lihat dalam tabel berikut ini.
| Negara kreditur | Nilai kepemilikan surat utang negara AS |
| China | US$ 1,11 triliun |
| Jepang | US$ 1,06 triliun |
| Brazil | US$ 307 miliar |
| Inggris | US$ 301 miliar |
| Irlandia | US$ 270 miliar |
| Swiss | US$ 227 miliar |
| Luksemburg | US$ 224 miliar |
| Kepulauan Cayman | US$ 217 miliar |
| Hong Kong | US$ 206 miliar |
| Belgia | US$ 180 miliar |
| Arab Saudi | US$ 177 miliar |
| Taiwan | US$ 171 miliar |
Kepemilikan China atas surat utang negara AS telah berlangsung selama beberapa dekade. Apa yang dilakukan China ini merupakan upaya agar mata uangnya, Renminbi, gak menguat.
Sebab penguatan Renminbi memberi dampak negatif terhadap volume ekspor China ke negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat. Sebagaimana yang kamu tahu, China merupakan negara eksportir terbesar di dunia.
Sekalipun hubungan China dan Amerika Serikat sedang gak bagus, belum pernah terpikirkan sepertinya oleh China buat melepas seluruh surat utangnya. Dampaknya, udah pasti perekonomian AS makin terpuruk dan stabilitas keuangan global terganggu.
Situasi buruk tentunya gak memberi China keuntungan sama sekali. Sebab perekonomian China selama ini bergantung pada ekonomi global melalui kegiatan ekspornya.
Nah, itu tadi informasi mengenai surat utang negara Amerika Serikat dan negara-negara yang memilikinya. Hingga saat ini belum ada tanda-tanda jelas perang dagang AS – China mereda. Walaupun begitu, harapannya semoga ada solusi terbaik demi membaiknya ekonomi global. (Editor: Ruben Setiawan)