Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar pertunjukan ilusi hologram bertajuk Kala Jakarta yang bertemakan sejarah Ibu Kota dari masa prasejarah hingga setelah kemerdekaan, sebagai bagian dari rangkaian program Monas Week, 23 – 31 Juli ini.
“Mengambil judul Kala Jakarta, inspirasinya dari sejarah kota kita ini yang begitu asyik, kontroversi dan banyak hal lainnya,” kata Adi Panuntun, salah seorang kreator ilusi hologram itu saat memberi keterangan di Museum Sejarah Nasional di Monas, Senin 22 Juli 2019.
“Pameran ilusi hologram awalan supaya banyak fasilitas-fasilitas publik yang disediakan pemerintah bisa lebih update lagi mengaktifkan konten-konten kreatifnya disampaikan bantuan teknologi baru juga kreativitas baru dan masyarakat terutama generasi milenial lebih ingin mengambil pelajaran sejarah yang ditampilkan,” sambungnya.
Lebih lanjut, Adi mengungkapkan, hadirnya ilusi hologram lewat judul Kala Jakarta diharapkan penyampaian sejarah lebih kekinian.
“Kala Jakarta adalah banyak sekali timeline Jakarta yang bisa hadir dalam hal-hal menarik untuk generasi muda hanya saja banyak yang terjebak di buku-buku sejarah, juga media yang tidak diakses generasi sekarang. Ini Awalan yang tertimbun dalam media-media itu agar lebih kekinian di fasilitas-fasilitas publik,” jelasnya.
Pameran ilusi hologram itu ditampilkan pada sebuah instalasi transparan berukuran 4×6 meter yang terbuat dari layar holo (holo screen). Nantinya layar holo akan menangkap cahaya dari dua proyektor dengan teknik cross projector.
Menampilkan sejarah Kota Jakarta

Kepala Disparbud DKI Edy Junaedi menyatakan, pameran tersebut menampilkan sejarah dan keragaman budaya Jakarta melalui teknologi hologram. Pameran hologram yang menampilkan gambar-gambar sejarah Jakarta akan ditayangkan 48 kali selama delapan hari.
“Tahun sebelumnya, ada video mapping di Monas, mudah-mudahan bisa menjadi satu bulan. Semoga tahun depan mendapat dukungan anggaran lebih banyak lagi,” kata Edy di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Senin 22 Juli 2019.
Dia mengatakan, Monas dipilih sebagai lokasi pameran hologram itu karena merupakan salah satu ikon Jakarta. Hologram yang ditampilkan pun merupakan penyatuan sejarah sekarang dengan masa lalu.
Pameran dengan target keluarga, anak-anak, dan milenial itu terbuka untuk umum, dan dibuka kecuali Senin, sebab kawasan Monas tutup.
Edy menyebut pameran hologram itu berdurasi 20 menit dengan jadwal tayangan pukul 11.00 WIB, 13.00 WIB, 15.00 WIB, 16.00 WIB, 17.00 WIB dan 19.00 WIB. Untuk melihat pameran ini, pengunjung cukup hanya membayar tiket masuk Monas.
Baca juga: Kalahkan Dufan dan Trans Studio, Ini 5 Taman Hiburan Termahal di Dunia
Menghabiskan dana Rp 1,5 M

Ilusi hologram yang diselenggarakan di Museum Sejarah Nasional yang berada di dalam kawasan Monas, Jakarta Pusat itu dianggarkan dengan dana Rp 1,5 miliar.
“Program Monas Week ini terdiri dari tiga event, hologram bulan Juli, bulan Agustus pameran lampu, terakhir video mapping. Kenapa diciptakan pameran ini berangkat dari tahun lalu, ada video mapping Monas dalam rangka Asean Games pengunjungnya luar biasa,” ungkap Munjirin, Plt Kepala Unit Pengelola Monas.
“Berangkat dari situ kenapa kita tidak programkan lagi hal-hal yang memang kekinian yang masyarakat mungkin belum familiar kalau teknologi ini ada, kita coba terapkan di Monas ini,” lanjut dia.
Saat ditanya mengenai dana yang digelontorkan untuk menggelar event ini, Munjirin memastikan uang yang dihabiskan mencapai Rp 1,5 miliar.
“Menghabiskan (dana) kurang lebih Rp 1,5 miliar,” tandasnya.
So, siap ke Monas untuk menyaksikan sejarah Kota Jakarta lewat ilusi hologram?